Perjalanan


a

Agustus bulan yang lalu, bertepatan dengan kemerdekaan R.I., bersama teman2 di HSX125C berkunjung ke kawah putih di Ciwidey ‘tuk bernostalgia mengenang touring pertama dulu yang juga diadakan di tempat ini.

Cuaca di daerah ini masih sejuk menjurus dingin… sangat nyaman buat bersantai melepas lelah..

bersantai di situ patenggen, suatu danau di dataran agak tinggi di tengah-tengah perkebunan teh…

Kenapa kau…?

Kenapa terus kau tunjukkan kemarahanmu dengan membangkang perintah Tuhan yang telah kau dengar sejak kecil…

Kenapa..?

Kenapa..?”

(ucapan “Bang Jack” pada “Bahar”dalam PPT)

Seminggu yang lalu (1-3 Agustus) dapet undangan ‘tuk menemani teman2 dari Honda Supra X 125 Community yang akan mensurvey pesisir selatan Banten (Bayah-Binuangen).

Dengan posisi menunggu di depan Plaza Prangrango Bogor, sekitar jam 1 Sabtu dini hari, melintaslah rekan2 HSX yg berangkat dari Jakarta, langsung bergabung dan perjalanan kembali dilanjutkan. Sempat tertahan di depan Ekalokasari Plaza karena ada razia dari pihak Kepolisian Bogor, disinilah bertemu rekan2 dari FR2 (kaskus Community) yang juga tengah dirazia, rupanya mereka dari rombongan yang hendak ke curug Cilember. Setelah kelar urusan dengan pak polkis, perjalanan dilanjutkan dengan meninggalkan Bogor yang malam itu tidak terasa begitu dingin, terus ke selatan memasuki Sukabumi dan memilih untuk berbelok memasuki rute tradisional Cikidang.

Sekitar jam 3.20 pagi sampailah juga di Pelabuhan Ratu, karena SPBU tutup.. terpaksa sebagian motor diisi dengan bensin eceran seharga Rp7000/lt. Karena sebagian besar dah mengantuk maka diputuskan untuk istirahat hingga pagi menjelang…

Perjalanan dilanjutkan.. selepas pelabuhan ratu banyak diwarnai dengan trek menanjak dan akan merasakan nuansa pegunungan yang dicirikan dengan tanjakan, turunan dan kelokan2 tajam yang sangat mengasyikan. Jalanan yang beraspal mulus dan kosong kerap memacu adrenalin ‘tuk bermanuver menguji nyali.

Selepas melewati 3 gunung di Cisolok, di turunan terakhir memasuki Bayah terasa begitu indah karena terlihat birunya pantai selatan yang begitu luas terlihat dari ketinggian. Sebenarnya tujuan awal adalah menuju Bayah, namun karena kalah dengan rasa keingintahuan akan Desa Sawarna, mak rute dibelokan ke kiri menuju Desa wisata Sawarna yang sudah mulai banyak diperbincang orang2.

Dipermulaan, jalanan yang beraspal mulus ramah menyambut kami, namun selanjutnya jalanan mulai jtidak bersahabat.. beberapa bagian bahkan seperti baru akan diperbaiki dan beberapa ruas malah lebih cocok untuk medan off road :(

Namun, terlepas dari buruknya kondisi jalan (sebagian malah menganggapnya sebagai tantangan yang musti ditaklukkan,) di sepanjang jalan menuju Desa Sawarna akan disuguhi nuansa rimbunya pohon-pohon di perbukitan dan hijaunya sawah bersusun yang tampak begitu menyegarkan sebagai penawar beratnya kondisi jalan yang telah dilalui.

Untuk menuju pantai, alah satu trek yang cukup menantang adalah ketika harus melewati sebuah jembatan gantung .. Jembatan ini dibangun di atas sungai yg cukup dalam… dengan hanya dibuat dari tumpukan kayu yang disusun berlapis.. kemudian dijalin oleh tali dan kawat. Ketika berada di tengah jembatan.. akan terasa sekali goyangannya yang diakibatkan oleh pijakan yang tidak stabil maupun angin yang keras menghempas yang kesemuanya akan membuat adrenalin semakin terpacu.

Selepas Jembatan gantung, untuk menuju pantai kembali hmusti melewati trek semak-semak berpasir… yang membutuhkan konsentrasi, kesabaran dan keahlian tersendiri untuk melaluinya.. trek ini cukup panjang sehingga nuansa off road benar-benar terasa.

Setelah melewati itu semua.. maka sampailah pada keindahan pantai berpasir landai yang masih tampak begitu alami.. hanya ada satu-dua perahu nelayan yang sedang sandar sementara di kejauhan beberapa surfer asyik berselancar. Namun, keinginan untuk merasakan kesegaran air di pantai ini terpaksa di tunda karena ketiadaan air bersih yang memadai untuk pembilasan. Meski minim fasilitas, di sini terdapat satu-dua rumah penduduk yang bersedia untuk sekedar menyiapkan pisang goreng hangat dan minuman secukupnya.

Setelah puas menikmati pantai.. perjalanan berlanjut menuju Binuangen.. tempat dimana salah satu rekan HSX tinggal. Lelah yang tak tertahankan membuat semuanya tertidur pulas, namun tak lama terbangun oleh nyanyian perut minta diisi… Untunglah… tuan rumah sangat mengerti akan hal ini… sajian makan siang dengan menu seafood segar dan sambal istimewa sudah disiapkan…

Sorenya disempatkan untuk mengengok Pantai Bagedur yang begitu luas namun terasa tak tersentuh.. Suasana sunset membuat nuansa yang begitu indah yang sungguh sayang untuk tidak diabadikan.. :)

Malam hari dilewati dengan beristirahat di kota Binuangen, di suatu resort yg sudah masuk daerah Cikeusik. Resort ini dibangun di sisi muara sungai.. dimana terdapat dermaga untuk kapal2 yang digunakan untuk memancing di laut. Meski di dekat muara… namun alam di sini lebih terasa sebagai sungai yang segar dibandingkan muara yang terkadang berbau amis.

Pagi hari diisi dengan main ke tempat pelelangan ikan di Binuangen. Seumur hidup, baru kali inilah dapat melihat secara langsung ikan-ikan berukuran besar… dari Hiu martil hingga ikan pari yang memiliki lebar bentangan hingga 3 meter… Ikan Pari ini terlelang dengan harga hanya Rp. 1, 8 Jt, harga yang aku sendiri tidak tau pasti apakah itu harga yang pantas untuk segala perjuangan yang telah dilakukan para nelayan untuk menangkapnya.. nelayan yang hanya menggunakan perahu kecil berawak lima orang.

r

Sebelum pulang dari tempat pelelangan, tidak lupa membeli ikan2 segar untuk menu santap siang nanti menjelang keberangkatan pulang.

Setelah makan siang.. sekitar pukul 2 sore, perjalanan pulang di mulai dengan rute yang sama seperti rute keberangkatan… sepanjang perjalanan di Bayah dilewati dengan terus menikmati suasana pantai selatan yang begitu indah… trek2 yang begitu menantang di sepanjang pegunungan cisolok, trek Cikidang yang selalu nikmat untuk dilalui… hingga akhirnya berpisah di Bogor, sementara rekan2 HSX melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

at last, thanks to all of you guys (Aha, Boyke, Bima, Doni, Panji, Tb, Widya) for a very nice trip :)

Awal tahun ini menyempatkan menyambangi pantai Pangandaran di selatan Garut. Dulu kawasan ini sempat tersapu tsunami, namun sekarang dah mulai bangkit lagi meski wisatawan belum seramai dulu.

Hotel, cotagge dan toko souvernir mulai ditata lagi hingga terlihat lebih rapi. Kita bisa menikmati body surfing, menjelajahi pantainya dengan perahu nelayan… dan tentu saja seafood nya yang begitu nikmat. :thumbup:

Sunset di Ujung Genteng

Foto ini diambil oleh salah seorang rekan setahun yang lalu saat bersama-sama mengunjungi Ujung Genteng, salah satu pantai di pesisir Jawa Barat yang masih terkesan alami. Air di pantainya masih begitu segar.. di daerah ini juga terdapat tempat penangkaran penyu raksasa.

Sepulang dari survey ke Ujung Genteng, sejenak menyempatkan berpose di perkebunan sawit di daerah Cikidang. (Agustus 2007)

Terispirasi oleh cerita perjalanan Om Herry (HSX 002) di sini, awal April 2008 yang lalu akhirnya kuputuskan ‘tuk mencoba menjejaki lagi jejak-jejak ban Si biru Vario tunggangan Om Her…

Tadinya mo berangkat lewat utara dan pulang lewat selatan.. tp mengingat panas yang menyengat kl lewat utara.. maka diputuskan untuk lewat jalur selatan :

Bogor -Cikidang-Pelabuhan Ratu-Cisolok-Bayah-Cihara-Binuangen-Malingping-Cikeusik

-Cibaliung-Cimanggu-Sumur

Dari Bogor cuaca cerah berangkat pukul 10 pagi.. km dimulai dari nol.. bensin masih 3 bar.
Selepas tajur menuju sukabumi… kondisi jalan sudah mulai macet akibat jalanan yang bener2 rusak kl nga mo dibilang hancur.. bener kata om her.. mendingan ambil jalan pintas lewat Batutulis…

isi bensin di Cikereteg 10 rb (2.25 lt), km 18.
Memasuki trek cikidang baru perjalanan terasa nikmat dengan kecepatan 60-90 km/jam.. namun dibeberapa ruas..jalanan mulai tidak mulus (gradak) akibat lapisan atas aspal yg mulai tergerus air.

Sekitar jam 12 siang berhenti di Citarik buat makan siang sambil ngeliatin orang-orang yang sedang persiapan buat rafting… jam 12.30 perjalanan dilanjutkan.. nyempetin isi bensin di Pom Pelabuhan ratu 6 rb (1,33 lt), km 86. Lanjut lagi melewati kota Pelabuhan Ratu dan sejenak berhenti di Pantai Pelabuhan Ratu buat menikmati segarnya air kelapa muda.

Perjalanan dilanjutkan, dan dari cisolok hingga bayah akan menjumpai daerah pegunungan dengan pemandangan laut yang menakjubkan.. treknya juga sungguh menantang dari kelokan hingga tanjakan/turunan di pegunungan yang bisa dibilang cukup menguji nyali… Berhenti sejenak di Pom Bensin Bayah buat minum premium 1,33 lt, km 148, jam 2.48 sore.


Pantai Pelabuhan Ratu dilihat dari ketinggian

Sedangkan dari bayah hingga Binuangen… akan disuguhi oleh birunya pantai selatan di sisi kiri dan dan kuningnya sawah bersusun yang terhampar di perbukitan di sisi kanan jalan yang selalu menggoda mata anda untuk menikmatinya.

Sempat mampir ke Pantai Bagedur.. masih alami dengan hamparan pasir yang luas dan ombak yang cukup besar seperti Pantai Pangandaran…

Pantai Bagedur

Memasuki Binuangen jam 3.30 sore, isi bensin lagi 5000 perak, km menunjukan angka 197.

Sementara dari Binuangen-Cikeusik-Cibaliung-Cimanggu-Sumur akan disuguhi oleh suasana pedesaaan dari para petani yang sedang menjemur padinya di jalanan di depan rumah… terkadang diselinggi oleh hutan-hutan tropis yang menyejukkan… khusus di daerah Cibaliung.. jalanan mulai rusak sehingga kecepatan hanya bisa 20-60 km/jam.

Sampai di Sumur jam 5 sore, km menunjukkan angka 256 dengan total perjalanan sekitar 7 jam dan menghabiskan bensin sebanyak 5,7 Lt.

Catatan: Dari Pelabuhan Ratu hingga Sumur… bensin tercukupi dengan selalu mengisi bensin di Pom Bensin yang dilalui sehingga tidak perlu membeli bensin eceran yang banyak dijual di jalan.

Diputuskan untuk bermalam di Hotel Rhino, suatu cottage dengan nuansa rumah adat yang dikelilingi oleh rimbunya pepohonan sehingga benar2 menghasilkan suasana yg begitu alami.


Hotel Rhino

Selesai mandi.. langsung coba menikmati susasana kota Kecamatan Sumur yang merupakan kota terakhir sebelum memasuki kawasan Ujung Kulon…

Kota ini begitu sederhana.. toko-toko hanya buka di pagi hingga petang.. sedangkan cafetaria buka hingga jam 8 malam .

Di kala senja, kita bias menikmati suasana sunset dari dermaga yang biasa digunakan untuk menyeberang ke Pulau Umang sambil bercengkerama dengan penduduk sekitar yang memancing di dermaga tersebut.


semburat senja


Pulau Umang di kala senja


Krakatau di kejuhan


Semburat senja menemani anak-anak memancing

Minggu pagi disambut oleh pulangnya para pemancing sambil membawa ikan hasil tangkapannya..


Anak2 ceria membawa ikan hasil memancing

Jam 9.15 perjalanan pulang dimulai. Rute yang ditempuh sama seperti berangkat.. hanya berbeda dengan berbelok lewat jalur alternatif Batutulis.
Tiba di Bogor jam 6 sore. Waktu yang ditempuh lebih lama dari pada pas berangkat karena sepanjang perjalanan pulang banyak berhenti buat menikmati pemandangan.. bahkan sempat beristirahat sekitar 1 jam di daerah Cihara..di sebuah tempat peristirahatan di tengah sawah sambil memandangi birunya pantai selatan sambil bercengkerama bersama sepasang bapak-ibu tua yang banyak memberikan pandangan mengenai hidup.. (hatur nuhun sanget to Ibu Tati dan sang Suami..)

Next Page »